Senin, 26 November 2018

Pernikahan Impian

Assalamualaykum Warrahmatullah
Kisah ini bukan kisah saya, tapi kisah nyata sebuah penyelenggaraan pernikahan, yang saya dapat di salah satu komunitas grup whatsapp yang saya ikuti, dimana ketika baca kisah ini perasaan saya kok sedih ya, kok terharu ya, kok terinspirasi yaa, disaat banyak muda-mudi yang ingin menyelenggarakan pernikahan mewah bak para artis atau selegram yang lagi hits, justru kisah nyata yang diceritakan ummi maya ini yang paling membuat saya iri, dan berharap inilah pernikahan yang saya impikan, ketika banyak muda-mudi mencari restu dunia justru mereka sibuk mengharapakn restu yang mampu mengetuk pintu langit, semoga kisah ini juga bisa lebih menjadi inspirasi para muda-mudi yang akan mengikat janji suci

Pernikahan Terindah By Ummi Maya


Sebagai perempuan yg sudah menikah, saya selalu iri melihat baju2 pengantin syar'i zaman sekarang yg begitu indah. Warna2 pastel nan lembut dan bikin imut yg memakainya, riasan kepala yg simple tapi bikin manis mempelai wanita, membuat para pengantin muslimah sekarang seakan menjelma menjadi putri2 dalam negri dongeng. Kok dulu belum ada pas zaman saya ya? 😢

Dekorasi pernikahannya juga lucu2 dan membuat saya yg melihatnya, serta merta menjadi histeris. "Sayang...itu..ya ampuuuun. Lucu bangeeettt." Dan setiap saat suami saya akan bertanya, "maksudnya lucu itu apa sih?" Dan saya menjawab dgn jawaban absurd (khas semua wanita), "lucu itu maksudnya bagus banget 😍".


Belum lagi foto2 pernikahan yg membuat baper setiap akhwat yg melihat (tdk hanya utk para jomblo, tp juga perempuan dgn 4 anak seperti saya). Seingat saya, dulu pose kami standart saja. Tatap2an, saling melingkarkan lengan di bahu, dan duduk bersebelahan. Itu saja. Tapi para pengarah gaya zaman sekarang, benar2 ahli membuat foto pernikahan seromantis mungkin.

Pokoknya pernikahan zaman sekarang itu more romantic, more colourful, dan bikin iri perempuan2 kebanyakan ngayal seperti saya ini 😋

Andai dulu acara pernikahan saya seperti itu... Aah, pasti lebih indah. Itu pikiran saya, sampai tadi pagi, saya menyadari kalau saya sudah membuat kesimpulan yg keliru.

----------------------

Pagi yg dingin, saya sdh harus mandi dan bersiap untuk pergi ke pernikahan antara dua orang kader kami dalam mengajar al-Qur'an. Yang perempuan adalah pengajar di salah satu rumah tahfizh kami, yang laki2 pun pegiat di setiap acara dimana kami mensyiarkan menghafal al-Qur'an. Anak2 kami bangunkan dan hanya sempat berwudhu dan sikat gigi. Ya, kami pergi pagi2 buta karena sudah harus ada di tempat acara pada saat Shubuh. Karena memang pernikahannya sendiri diadakan ba'da Shubuh.

Kami mampir sholat di masjid sebelum sampai lokasi acara. Selesai sholat, kami bertemu mempelai lelaki yang masih berkaus. Rupanya dia sholat di masjid itu juga karena lokasi acara sudah sangat dekat. Maka kami pun bersama dengan beberapa kader kami yg sama2 membantu acara, pergi ke lokasi dimana akad akan dilangsungkan. Dan barulah saya tau, bahwa lokasi akad adalah di rumah tahfizh dimana mempelai wanita mengajar setiap hari.

Sang mempelai pria masuk juga ke rumah itu. Rumah yg mungil, dimana begitu saya menjejakkan kaki ke dalamnya, saya bisa melihat mempelai wanita sedang sibuk menata2 makanan di atas lantai beralas karpet, dibantu beberapa akhwat lainnya. Di dapur, ada seorang wanita paruh baya yg rupanya adl ibu mempelai wanita, sedang sibuk memasak.

"Umiii, makasih mau datang." sang mempelai wanita memeluk saya. Ia bergamis, berjilbab dan bercadar serba pink. Sederhana, sebagaimana biasa dipakai oleh para akhwat sehari2. Para akhwat lain menyalami saya dan mempersilakan saya duduk di ruang tamu seluas 3 x 4 itu. Tak ada tirai pembatas yg memisahkan akhwat dan ikhwan karena mungilnya ruangan yg dipersiapkan utk akad itu.

Saya masih belum connect karena keadaan ini di luar bayangan saya tentang pernikahan pada umumnya. Saya memandang makanan yg terhampar seadanya di hadapan saya. Menu sederhana, di wadah yg juga sederhana. Jangan bayangkan mereka memesannya dari catering, sang mempelai wanita dan ibunya sendiri yg memasaknya.

Mempelai wanita masih sibuk mondar mandir mengurus apa2 yg belum siap. Sedangkan mempelai pria duduk berbaur bersama ikhwan lainnya. Saya lihat ia sudah mengganti kaosnya dengan gamis berwarna kelabu. "Inikah baju pernikahan mereka?" bisik saya dalam hati seraya berharap mereka masih akan berganti pakaian sebelum akad dimulai. Pada kenyataanya, hingga akhir acara mereka tak kunjung berganti pakaian.

Tiba2 pengantin wanita membawa sebuah kardus bekas mie instan ke tengah ruangan, dan menutupinya dengan taplak warna pink yg ia lipat2 agar ukurannya sesuai dengan kardus yg ia bawa . "Ini anggap aja mejanya yaa, buat akad." katanya seakan menjelaskan keheranan saya. Sejak detik ini hati saya sudah meleleh.

Maka setelah menunggu lebih dari setengah jam dan kami mengisinya dengan murajaah surat ar-Rohman (hampir semua yg di ruangan itu adalah penghafal al-Qur'an), suami saya segera mengambil microphone dan membuka acara. Ia bertindak sebagai MC sekaligus pengganti penghulu (mereka baru akan mengurus surat2 di KUA beberapa hari lagi. Mengundang penghulu lebih mahal dari mendatanginya di KUA).

Setelah wali dan mempelai pria saling berlatih sebentar untuk pembacaan ijab qobul, dimulailah prosesi akad nikah. Suami saya membaca khutbah nikah, kemudian wali sang mempelai perempuan mengucapkan ijab, "... Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin titanium..." mendengar kalimat itu, segera buram mata saya karena air yg mulai mengembun. Apa??? Cincin titanium? Jangankan emas, bahkan perak pun tidak. Saya langsung ingat putri Rasulullah yg menikah dengan mas kawin sebuah baju zirah, hasil rampasan perang pula. Buru2 saya ambil tisu agar tak deras air mata ini keluar. Saya terus mengeringkan mata sampai kedua mempelai saling menyematkan cincin. Tak ada fotografer profesional yg mengabadikan momen tersebut, hanya sebuah kamera pinjaman yg dioperasikan teman kedua mempelai, dan kamera2 dari hp kami yg menghadiri pernikahan mereka. Tak ada pengarah gaya yg bisa mengabadikan romantisme mereka. Kami para perempuan hanya berteriak lirih ketika si mempelai pria mendadak mencium kening istrinya. "reflek", kata sang pria yg kami sambut dengan derai tawa.

Lalu kami semua mulai sarapan tanpa memindahkan badan sedikit pun. Makanan diedarkan dan saya tanpa sadar makan dengan lahap. Inikah awal dari keberkahan pernikahan mereka? Karena makanan sederhana ini dapat menggugah tak hanya selera saya, namun juga para tamu yg hadir.

Sebelum pulang, kami berfoto bersama pengantin selayaknya pernikahan pd umumnya. Tapi yg membedakan, tak ada dekorasi ruangan yg bertabur bunga dan penuh warna seperti terekam dalam kepala saya. Kami hanya berfoto di pinggir jalan dengan latar rumah yg kami pakai untuk akad. Pengantin dan keluarganya, teman2 yg hadir, semua menunjukkan rona bahagia di wajah mereka.

Dan selama perjalanan kembali ke rumah, saya hanya bisa diam dan merenungi kebersahajaan pernikahan itu. Inilah pernikahan tersederhana yg pernah saya hadiri, namun juga pernikahan yg paling membuat saya kagum. Betapa banyak pernikahan mewah yg saya hadiri, tapi bahkan detil nya pun sudah tak saya ingat lagi ketika kaki beranjak meninggalkan gedung resepsi. Namun acara pagi ini, tak mungkin saya lupa. Dan saya teringat bisikan lembut sang mempelai wanita saat saya memeluknya terakhir kali, "Umi, doakan saja agar kami jadi keluarga Qur'ani." Saya mengangguk seraya tersenyum, melihat lekat ke kedua matanya yg tak tertutup cadar, mata tanpa sentuhan riasan apapun. Membuat saya teringat dengan para selebgram bercadar yg memiliki alis dan mata indah dalam setiap fotonya, dan segera berkata dalam hati bahwa mata di hadapan saya itu tak kalah indahnya, karena saya bisa melihat rasa syukur yg terpancar di sana.

Baarokallaah *Santi dan Dhimas*. Acara pernikahan kalian boleh sederhana, tapi cinta kalian berdua harus mewah terbingkai dalam amal ibadah kepadaNya. Selamat...


Didapat dari komunitas askar kauny, ditulis oleh Ummi maya tercatat saya mendapatkan ini pada Desember 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar